Minggu, 13 Juni 2010

Unjuk kerja

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian pengertian

Sebelum membicarakan tentang penilaian akan ditinjau terlebih dahulu beberapa istilah yang banyak ditemui dan sering ditanyakan perbedaannya, yaitu pengujian, pengukuran, penilaian dan evaluasi.

1. Pengujian adalah kegiatan memberikan sejumlah pertanyaan.

2. Pengukuran adalah kegiatan yang sistematik untuk memberikan angka pada objek atau gejala

3. Penilaian (assessment) adalah penafsiran hasil pengukuran dan penentuan pencapaian hasil belajar.

4. Evaluasi adalah penentuan mutu dan penentuan pencapaian tujuan suatu program.

Sesuai dengan pengertiannya, dapat dikatakan bahwa penilaian adalah suatu kegiatan pengukuran, kuantifikasi dan penetapan mutu pengetahuan siswa secara menyeluruh. Dalam pengertian ini diisyaratkan bahwa penilaian harus terintegrasi dalam proses pembelajaran dan menggunakan beragam bentuk.

2.2. Teknik Penilaian

Menurut jenisnya, teknik penilaian dibedakan menjadi tes dan non tes.

1. Tes

Tes adalah metode yang sangat penting untuk memperoleh informasi tentang apa yang dapat dilakukan dan diketahui siswa. Untuk menjamin diperoleh hasil yang autentik dari setiap siswa, tes dilaksanakan dalam situasi yang khusus, yaitu:

a. Waktu terbatas. Siswa harus menyelesaikan atau menjawab soal tes dalam waktu yang telah ditentukan.

b. Tanpa bantuan dari buku, orang lain atau sumber-sumber lain, kecuali jika tes merupakan open book test.

c. Pengawasan. Hal ini dilakukan supaya tes dapat berjalan dengan tertib dan mendapatkan hasil yang autentik.

Bentuk tes meliputi pilihan ganda, benar salah, menjodohkan, jawaban singkat, uraian terstruktur, uraian bebas, dan unjuk kerja. , dan lain-lain). Kadang-kadang hasil karya siswa dapat merupakan kombinasi bentuk tertulis dan tidak tertulis. Sebagai contoh adalah karya ilmiah tentang teknologi tepat guna dalam suatu bidang tertentu yang terdiri dari alat dan deskripsi prinsip – prinsip ilmiah yang merupakan dasar cara kerja alat tersebut.

Hasil karya merupakan sumber informasi yang sangat berguna untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan ketrampilan siswa. Sayangnya hasil karya ini seringkali bukan hasil autentik pekerjaan siswa karena adanya bantuan – bantuan dari luar yang diberikan dalam menyelesaikan hasil karya itu. Jika hasil karya siswa dikumpulkan dan dilihat kemajuan yang diperoleh siswa selama periode tertentu maka kumpulan itu disebut portfolio (portofolio). Portofolio dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan orang tua untuk melihat kemajuan siswa dan potensi yang dimilikinya.

2. Sikap

Sikap dan minat siswa terhadap suatu mata pelajaran dapat diukur melalui pengamatan, pengisian angket atau check list . Untuk memudahkan penyebutan selanjutnya, bentuk pilihan ganda, benar salah, menjodohkan dan jawaban singkat dikatakan bentuk tes konvensional. Penilaian dalam pembelajaran fisika diharapkan dapat mengungkapkan kemampuan siswa dalam hal pemahaman konsep, prosedur, komunikasi, penalaran dan pemecahan masalah.

Untuk menjawab tuntutan itu maka guru harus menggunakan teknik penilaian yang dapat mengungkapkan hal-hal tersebut di atas. Sayangnya tidak semua teknik penilaian memenuhi komponen-komponen yang disebutkan. Kalaupun bisa, seringkali secara teknis ada kendala. Untuk itu perlu diketahui kelemahan dan kelebihan masing-masing teknik penilaian sehingga guru mempunyai gambaran dalam merencanakan penilaian di dalam kelasnya.

Tes konvensional mempunyai kelebihan dalam hal dapat menjangkau materi yang luas, dapat dilaksanakan dalam waktu relatif singkat dan dapat diperiksa dengan cepat. Kelemahannya adalah memakan waktu yang cukup lama untuk merancang instrumen penilaian yang baik dan umumnya tidak bisa menjangkau kemampuan prosedur, penalaran, dan komunikasi. Seringkali ditemukan bahwa siswa belajar fisika hanya sekedar menghafal rumus tanpa penguasaan konsep dasar, sehingga mayoritas siswa menganggap fisika sebagai salah satu pelajaran yang menakutkan karena banyak dikelilingi rumus. Dalam tes konvensional dengan sedikit mengerti atau kadang-kadang tidak mengerti sama sekali mengapa, dan bagaimana suatu prosedur dilakukan. Tidak mengherankan bahwa sering terjadi siswa menjawab benar, tetapi sebenarnya mereka tidak tahu alasan mengapa jawaban itu benar. Terutama sekali bila bentuk soal yang digunakan adalah pilihan ganda atau benar-salah. Banyak siswa yang menjawab berdasarkan terkaan saja. Jika guru hanya menggunakan teknik penilaian yang tidak dapat mengungkapkan penguasaan siswa terhadap kompetensi yang diharapkan, maka akan terjadi kontradiksi. Di salah satu sisi siswa dianggap sudah menguasai kompetensi yang diharapkan, tetapi yang sebenarnya adalah siswa belum menguasai kompetensi tersebut.

Dalam pembelajaran fisika banyak materi yang dipelajari membutuhkan pengetahuan prasyarat materi sebelumnya. Jika siswa yang dianggap sudah tuntas tadi (tetapi sebenarnya belum) mempelajari materi baru akan terjadi kesulitan akibat ketidak mengertian siswa tentang materi prasyarat. Akibatnya terjadi akumulasi ketidakmengertian materi yang dipelajari. Lebih jauh lagi siswa akan merasa dunia fisika menjadi gelap dan lama kelamaan menjadi hitam kelam.

Keadaan ini akan bisa diketahui dan diperbaiki kalau instrumen penilaian ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengungkap alasan mengapa

siswa memilih jawaban itu dan bagaimana ia sampai pada kesimpulan itu. Penilaian seperti ini merupakan salah satu bentuk penilaian unjuk kerja yang paling sederhana.

Bernardin dan Russel (1993:378) memberikan definisi tentang prestasi kerja sebagai berikut:

“performance is defined as the record of outcome produced on a specified job function or activity during a specified time period” (Prestasi kerja didefinisikan sebagai catatan dari hasil-hasil yang diperoleh melalui fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama tempo waktu tertentu).

Danielson (1998:1) mendefinisikan penilaian unjuk kerja sebagai berikut;

Performance assessment means any assessment of student learning that requires the evaluation of student writing, products, or behavior. That is, it includes all assessment with the exeption of multiple choice, matching, true/ false testing, or problems with a single correct answer. Penilaian unjuk kerja adalah penilaian belajar. Penilaian unjuk kerja adalah penilaian belajar siswa yang meliputi semua penilaian dalam bentuk tulisan, produk, atau sikap kecuali bentuk pilihan ganda,menjodohkan,benar salah,atau jawaban singkat.

Sehingga jika definisi dari beberapa pengertian di atas, seorang pendidik dalam melaksanakan evaluasi pendidikan khususnya dalam bentuk unjuk kerja, maka bisa dilakksanakan dengan cara penugasan terhadapa siswa dalam bentuk tulisan, produk atau sikap kecuali bentuk pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, atau jawaban singkat.

Dengan mengetahui kelemahan dan kelebihan masing-masing jenis tes ini maka sebaiknya guru tidak menggunakan hanya satu teknik penilaian saja tetapi menggunakan berbagai variasi teknik penilaian.

2.3. Penugasan (Proyek/project)

Metode penugasan menjadi salah satu cara penyampaian pengajaran yang dirancang untuk peserta didik agar bersemangat untuk menarik dan menemukan sendiri jawaban-jawabanatas tugas yang diberikan guru. Metode pemberian tugas atau penugasan diartikan sebagai suatu cara interaksi belajar mengajar yang ditanda tangani dengan adanya tugas guru untuk dikerjakan peserta didik di sekolah ataupun dirumah secara perorangan atau berkelompok.Tujuan dari penggunaan metode penugasan adalah untuk merangsang anak untuk aktif belajar secara individu maupun kelompok.

Setelah tanya jawab atau ceramah diketahui bahan-bahan yang perlu mendapatkan penekanan dan harus dikuasai peserta didik, guru memberikan tugas dengan alasan agar peserta didik dapat belajar sendiri atau berkelompok mencari pengayaannya atau sebagai tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya.

1. Kekuatan metode penugasan

Kekuatan dari penggunaan metode penugasan ini adalah :

1) Membuat peserta didik aktif belajar.

2) Merangsang peserta didik belajar lebih banyak, baik dekat dengan guru maupun pada saat jauh dari guru didalam sekolah maupun di luar sekolah.

3) Mengembangkan kemandirian peserta didik.

4) Lebih meyakinkan tentang apa yang dipelajari dari guru, lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas tentang apa yang dipelajari.

5) Membina kebiasaan peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi dan komunikasi.

6) Membuat peserta didik bergairah belajar karena dapat dilakukan dengan bervariasi.

7) Mengembangkan kreativitas peserta didik.

8) Mengembangkan kreativitas peserta didik.

2. Keterbatasan Metode Penugasan.

Keterbatasan metode penugasan adalah :

1) Sulit mengontrol peserta didik apakah belajar sendiri atau dikenakan orang lain.

2) Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu peserta didik.

3) Tugas yang monoton dapat membosankan peserta didik.

4) Tugas yang banyak dan sering, dapat membuat beban dan keluhan peserta didik.

5) Tugas kelompok dikerjakan oleh orang tertentu atau peserta didik yang rajin dan pintar.


2.4. Hasil Kerja

Dalam manajemen proyek, hasil kerja (bahasa Inggris: deliverable) adalah objek berwujud atau tak berwujud yang merupakan hasil pelaksaan proyek, sebagai bagian dari suatu kewajiban atau obligasi. Istilah yang biasa dikaitkan secara spesifik dengan objektif ini, dapat berupa suatu kata benda: suatu barang, produk, atau artefak yang harus dibuat dan diberikan sebagai bagian kewajiban, atau suatu kata keterangan: menjelaskan sesuatu yang harus diberikan sebagai bagian dari kewajiban.

Hasil kerja(Product) adalah hasil pekerjaan siswa dan dievaluasi menurut kriteria tertentu.

Hasil kerja ini dapat berupa:

1. Tulisan,misalnya laporan,jurnal,drama,karya ilmiah dan tulisan tentang suatu topik tertentu.

2. Bentuk tak tertulis,misalnya alat,pahatan,balok,gambar dan lainnya Penilaian ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan keterampilan siswa yang nantinya digunakan untuk melihat kemajuan siswa dan potensi yang dimiliki siswa.

2.5. Membuat Instrumen Penilaian Unjuk Kerja

Perlu diingat bahwa penilaian unjuk kerja bukan semata-mata dirancang sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan, tetapi juga didisain untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Karena itu sejumlah faktor harus diperhatikan dalam membuat instrumennya.

1. Ukuran instrumen

Ukuran instrumen dapat kecil atau bisa juga besar. Tugas besar dapat mengukur lebih dari satu kompetensi dasar dan umumnya membutuhkan waktu yang cukup banyak. Umumnya tugas ini autentik dan kompleks sehingga siswa harus menganalisa dan mensintesa informasi yang diperoleh dari berbagai sumber.

Tugas kecil dapat berupa pertanyaan terbuka dengan memberi solusi suatu soal dan menjelaskan penalaran mereka. Umumnya tugas seperti ini dapat diselesaikan dalam jam pertemuan di kelas.

Untuk menentukan tugas kecil atau besar yang akan digunakan tergantung kepada tujuan penilaian yang diinginkan guru. Perlu dikaji apakah tujuan dilaksanakan semata-mata hanya sebagai umpan balik atau juga untuk mencapai tujuan yang lebih luas, Untuk ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Tugas kecil lebih sesuai untuk umpan balik saja. Jika guru selesai mengajar suatu konsep dan ingin mengetahui apakan siswa sudah mengerti maka digunakan tugas kecil. Tugas dapat berbentuk meminta siswa untuk menyelesaikan masalah yang relatif kecil, menjelaskan pikiran dan menunjukkan pekerjaan mereka. Dalam hal ini tidak termasuk aktivitas lain sebagai bagian dari tugas.

b. Tugas besar mencakup tujuan penilaian yang lebih luas, tidak sekedar umpan balik saja. Seringkali guru menginginkan siswa mempelajari materi baru sebagai hasil tugas unjuk kerja. Untuk hal seperti ini, tugas unjuk kerja meliputi beberapa aktivitas dan akan menghabiskan waktu beberapa hari untuk menyelesaikan tugas.

2. Ketrampilan dalam memulai

Umumnya pada waktu memulai menggunakan penilaian unjuk kerja, guru belum begitu yakin dan nyaman dengan apa yang mereka kerjakan. Bagi pemula disarankan untuk memulai dengan instrumen unjuk kerja yang kecil dulu. Jika belum yakin apakah petunjuk tugas untuk siswa sudah cukup jelas, maka hal ini dapat ditanyakan kepada siswa sewaktu mereka sedang menyelesaikan tugas itu. Petunjuk ini selanjutnya dapat diperbaiki sehingga siap untuk digunakan selanjutnya.

2.6. Kriteria Instrumen Unjuk Kerja yang Baik

Instrumen unjuk kerja yang baik memuat hal-hal berikut:

1. Autentik dan menarik

Hal yang penting bagi suatu instrumen unjuk kerja adalah menarik dan melibatkan siswa dalam situasi yang akrab dengan mereka sehingga siswa berusaha untuk menyelesaikan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Siswa cenderung lebih tertarik terhadap situasi tugas yang menyerupai kehidupan sehari-hari. Tugas ini akan membuat siswa menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang dikuasainya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Situasi dan pertanyaan dalam bahasa yang baik dan dapat dipahami siswa sehingga tidak memancing reaksi siswa seperti “Siapa peduli?”

Bagaimana cara menentukan apakah instrumen penilaian unjuk kerja akan membuat siswa tertarik dan terlibat dalam tugas itu? Sebagaimana banyak hal lain dalam dunia pendidikan, pengalaman profesional ( professional judgment ) adalah kuncinya. Berdasarkan pengalaman dan pemahaman tentang karakteristik siswa, seorang guru dapat memperkirakan apakah aktivitas dalam tugas unjuk kerja yang dibuat akan berhasil atau tidak.

2. Memungkinkan penilaian individual

Banyak instrumen unjuk kerja yang dimaksudkan untuk dikerjakan siswa secara berkelompok. Namun perlu diingat bahwa penilaian ini sebenarnya lebih dititik beratkan untuk penilaian individu. Karena itu disain penilaian unjuk kerja sebaiknya bisa ditujukan untuk kelompok dan individu. Sebagai contoh sekelompok siswa diberi data dan diminta untuk menganalisanya. Untuk penilaian individunya masing-masing siswa diminta untuk memberi rangkuman dan penafsiran apa yang ditunjukkan oleh data tersebut.

3. Memuat petunjuk yang jelas

Instrumen unjuk kerja yang baik harus memuat petunjuk yang jelas, lengkap, tidak ambigu dan tidak membingungkan. Petunjuk juga harus memuat apa yang dikerjakan siswa yang nanti akan dinilai. Sebagai contoh, jika salah satu kriteria penilaian meliputi organisasi informasi, maka siswa harus diminta untuk menampilkan informasi yang diperoleh dalam bentuk yang teratur.

Setelah instrumen penilaian unjuk kerja jadi, seyognya kita meminta analisis dari ahli yang bisa diminta pendapatnya untuk menganalisa. Mereka mungkin dapat melihat kekurang jelasan petunjuk siswa atau keambiguan kata-kata yang digunakan. Di samping itu mereka juga dapat melihat bila ada informasi yang disajikan tidak lengkap sehingga ada kemungkinan siswa tidak dapat menyelesaikan tugas. Setelah mempertimbangkan masukan dan saran-saran yang diberikan, instrumen dapat diperbaiki dan kemudian bisa diujikan kepada siswa.

2.7. Tujuan Penilaian

Penilaian yang dilakukan terhadap siswa mempunyai tujuan antara lain:

1. Mengetahui tingkat pencapaian kompetensi siswa.

2. Mengukur pertumbuhan dan perkembangan kemajuan siswa.

3. Mendiagnosis kesulitan belajar siswa.

4. Mengetahui hasil pembelajaran.

5. Mengetahui pencapaian kurikulum.

6. Mendorong siswa belajar.

7. Umpan balik untuk guru supaya dapat mengajar lebih baik.

2.8. Format Penilaian

Di bawah ini, kami sajikan contoh format penilaian secara umum dalam bentuk tabel:

*) Diisi dengan jenis yang sesuai, misal PR, ulangan harian, ulangan blok, kuis, tugas individu, tugas kelompok, pertanyaan lisan

**) Diisi dengan bentuk yang sesuai, misal unjuk kerja, uraian, pilihan ganda, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan.

***) Dibuat sesuai dengan bentuk instrumen yang dipilih Menerapkan Penilaian Unjuk Kerja

Selain itu, ada juga format penilaian yang diajukan untuk unjuk kerja siswa, antara lain:


2.9. Rubrik Analitik dan Rubrik Holistik

Rubrik adalah pedoman penskoran. Rubrik analitik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan. Dengan menggunakan rubrik ini dapat dianalisa kelemahan dan kelebihan seorang siswa terletak pada kriteria yang mana.

Rubrik holistik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi semua kriteria. Untuk rubrik seperti ini, salah satu contoh penyebutan yang digunakan adalah tingkat 1 (tidak memuaskan), tingkat 2 (cukup memuaskan dengan banyak kekurangan), tingkat 3 (memuaskan dengan sedikit kekurangan) dan tingkat 4 (superior) atau tingkat 0, tingkat 1, tingkat 2, dan tingkat 3 (masing-masing dengan sebutan yang sama).

Berikut ini adalah contoh rubrik holistik skala 4 secara umum:


Contoh format rubrik analitik.

Skala Kriteria/ Sub Kriteria

1 2 3 4

1. …………………………….

• ………………………….

• ………………………….

• ………………………….

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat rubrik penilaian unjuk kerja sebagai berikut:

1. Jenis kriteria

Pada pelajaran fisika, kriteria yang selalu diperhatikan adalah pemahaman konsep, pemecahan masalah, penalaran dan komunikasi. Apakah siswa memperlihatkan bahwa mereka sudah memahami konsep baik melalui pemecahan masalah atau melalui kesalahan yang dilakukan? Apakah dibutuhkan rencana atau strategi untuk memecahkan masalah? Sudahkah siswa mengorganisasi semua informasi yang diketahui? Apakah cara yang digunakan sistematis dan rapi? Bisakah pembaca mengikuti alasan yang diberikan? Disamping kriteria-kriteria di atas, apa lagi yang penting? Bagaimana dengan komputasi (perhitungan). Apakah jawaban yang diberikan sudah benar? Apakah kesalahan perhitungan hanya sedikit atau besar? Apakah semua jawaban yang mungkin sudah diungkapkan siswa? Perlu juga dipertimbangkan bahwa terlalu banyak kriteria yang dipertimbangkan akan banyak memakan waktu untuk penyekoran. Tetapi jika kriteria yang diinginkan terlalu sedikit, mungkin hasil yang diperoleh tidak akan cukup untuk memberikan informasi dalam memperbaiki unjuk kerja siswa.

2. Sub kriteria

Seringkali beberapa kriteria memiliki beberapa kategori yang disebut sub kriteria. Sebagai contoh, jika seorang siswa membuat presentasi sebagai bagian dari tugas yang diselesaikan maka kriteria penilaian dapat berupa “kualitas presentasi” dengan sub kriterianya bisa berupa “kejelasan dalam menyajikan”, “orisinal dan kesungguhan” dan “keterlibatan semua anggota kelompok”


3. Skala penilaian

Dalam menentukan skala yang digunakan ada hal-hal penting yang harus diperhatikan seperti berikut ini:

a. Tujuan penilaian. Ini akan mempengaruhi banyaknya angka pada skala penilaian. Jika rubrik digunakan untuk melihat kemajuan atau perkembangan siswa, maka angka pada skala akan lebih banyak daripada rubrik yang digunakan untuk penilaian saja. Rubrik yang digunakan untuk perkembangan akan mencerminkan jangkauan usia siswa. Sebagai contoh adalah rubrik ketrampilan menggambar grafik yang dikembangkan untuk siswa TK sampai siswa kelas XII akan sangat disarankan memuat 10 angka. Untuk siswa TK sudah dianggap baik sekali apabila dapat mencapai tingkat 2 tetapi kalau siswa SMA kelas X yang mencapai tingkat ini tentu tidak sesuai dengan tingkatannya.

b. Ganjil atau genap. Untuk tujuan penilaian, umumnya skala genap lebih disarankan. Skala ganjil memuat nilai tengah yang nyata. Penilai yang ragu – ragu cenderung untuk memberi nilai angka tengah. Skala genap tidak memiliki angka tengah. Dalam hal ini penilai harus membuat keputusan untuk memberi penilaian yang pasti. Skala penilaian yang disarankan adalah skala 4 (0 – 3 atau 1 – 4) atau skala 6 (0 – 5 atau 1 – 6) . Perlu dipertimbangkan bahwa semakin besar skala akan banyak memakan waktu untuk melakukan penilaian.

4. Membagi skala untuk batasan memenuhi dan tidak memenuhi.

Sangat penting untuk menentukan batasan yang memenuhi dan tidak memenuhi. Pada skala 5, misal 1 – 5, mudah menentukan batasan memenuhi dan tidak memenuhi. Skala 1 dan 2 dapat dianggap sebagai unjuk kerja yang tidak memenuhi, skala 3 dianggap unjuk kerja yang cukup memenuhi, skala 4 adalah unjuk kerja yang baik dan skala 5 adalah unjuk kerja yang sangat baik. Namun untuk skala 4, skala antara yang memenuhi dan tidak memenuhi perlu dipikirkan masak-masak.


5. Sebutan untuk setiap tingkat

Sehubungan dengan keperluan untuk mendefinisikan batasan antara memenuhi dan tidak memenuhi adalah penyebutan untuk setiap tingkat. Pada skala 4, contoh sebutan ini adalah “tingkat 1”, “tingkat 2”, “tingkat 3” dan “tingkat 4”. Selain itu sebutan dapat juga diungkapkan dengan kata-kata yang positif seperti “pemula”, “mampu”, “baik” dan “sangat baik” atau kata-kata lain yang sejenis.

6. Deskripsi untuk tingkat penampilan yang berbeda

Deskripsi tingkat penampilan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai

berikut:

a. Bahasa yang digunakan. Kata-kata yang digunakan harus deskriptif dan tidak komparatif. Sebagai contoh kata-kata “rata-rata” haruslah dihindari.

b. Deskripsi semua subkriteria. Jika kriteria memuat subkriteria maka tiap-tiap subkriteria harus dideskripsikan dengan jelas. Sebagai contoh jika kriteria presentasi memuat ketepatan, orisinalitas dan keterlibatan setiap anggota kelompok, maka deskripsi penampilan tiap-tiap tingkat harus meliputi semua subkriteria tadi.

7. Menghitung skor

Berdasarkan rubrik yang sudah dibuat dapat dinilai tugas unjuk kerja yang dikerjakan siswa. Skor yang diperoleh masih harus dirubah dalam skala angka yang ditetapkan (misal dalam bentuk 0 – 100). Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan adalah:

Bobot pertanyaan. Apakah bobot dari masing-masing pertanyaan sama atau berbeda? ada yang cukup memenuhi, skala 4 adalah unjuk kerja yang baik dan skala 5 adalah unjuk kerja yang sangat baik. Namun untuk skala 4, skala antara yang memenuhi dan tidak memenuhi perlu dipikirkan masak-masak.

PEMBAHASAN

Berikut ini merupakan analisis data yang diperoleh dari siswa SMA NEGERI 1 MUNCAR

1. Unjuk Kerja

Unjuk kerja berbentuk diskusi kelompok mengenai konstribusi paling besar dari kebudayaan Hindu-Budha terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.

Unjuk kerja merupakan proses yang diamati oleh guru,biasanya berkaitan dengan keaktifan siswa yang bisa dinilai dalam diskusi dan pemecahan masalah.

Lembar Penilaian Diskusi

Hari/Tanggal :

Topik diskusi/debat :

No

Sikap/Aspek yang dinilai

Nama Kelompok/Nama

Nilai Kualitatif

Nilai Kuantitatif

Penilaian Kelompok

1.

Menyelesaikan tugas kelompok dengan baik

2.

Kerjasama kelompok

3.

Hasil tugas

Jumlah nilai kelompok

Penilaian Individu Peserta Didik

1.

Berani mengemukakan pendapat

2.

Berani menjawab pertanyaan

3.

Inisiatif

4.

Ketelitian

Jumlah Nilai individu

Sedangkan untuk kriteria penilaian sendiri meliputi :

Kriteria Penilaian

Kriteria Indikator

Nilai Kualitatif

Nilai Kuantitatif

80-100

Memuaskan

4

70-79

Baik

3

60-69

Cukup

2

45-59

Kurang cukup

1

Dari kriteria penilain di atas dapat digunakan untuk memperoleh nilai siswa melalui kerjasama kelompok yang dilakukan.

2. Penugasan

Merupakan bentuk tugas yang diberikan oleh guru terhadap siswa baik tugas secara individu maupun tugas secara kelompok.

Contoh : penugasan bisa berbentuk PR (pekerjaan rumah),ulangan harian yang konkretnya secara administratif terlampir dalam hasil nilai.Tugas individu,kelompok dan ulangan harian.

Pada kegiatan pembelajaran kali ini penugasan diberikan oleh guru kepada siswa dalam bentuk pembuatan peta penyebaran agama Hindhu-Budha.Guru memberikan tugas ini seminggu sebelum KBM tentang materi ini dilaksanakan.

3. Hasil Kerja

Merupakan keseluruhan hasil yang diperoleh,berbentuk nilai kualitatif maupun kuantitatif.

Contoh konkretnya tertera dalam daftar nilai yang terlampir.

DAFTAR NILAI SISWA SMA NEGERI 1 MUNCAR

SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2009/2010

KELAS : XII-IPS-1

NO

NAMA

NILAI

1

Ade Wahyudi

86

2

Agung Happy

89

3

Ahmad Efendi

86

4

Alin Gita

5

Andian Setiyawan

86

6

Daniel Dwi

7

Deni Sanjaya

86

8

Dian Afriyanto

9

Dian Wulandari

10

Eko Darmawan

79

11

Endang Feryanti

12

Eni Wahyuni

83

13

Fitria Apriliana

86

14

Ganes Mardharani

15

Hendra Kurniawan

16

I Gusti Ayu

86

17

Irma setiawati

86

18

Ita Dwi

86

19

Jevi Novitasari

83

20

Kusnul Khotimah

89

21

Lailatul Muniroh

86

22

Linda Setyaningsih

83

23

Megasari

24

Nanda Antika

83

25

Niken Retno

83

26

Nugraha Okta

86

27

Nurhasanah

28

Okik Hermawan

29

Ratih Perbawati

86

30

Ria Andriani

86

31

Samsudin

32

Silv iana dewi

33

Siswanto

86

34

Styo Andi

35

Syaiful wahed

86

36

Totok sugiarto

Dari daftar nilai di atas ada beberapa siswa yang nilainya kosong,hal ini terjadi karena siswa tersebut nilainya tidak memenuhi standart penilaian.

Sedangkan untuk tugas kelompok sendiri memiliki standard pengambilan nilai yang berbeda juga.Kriteria penilaian ini meliputi aspek dan kemampuan siswa dalam mendemonstrasikan peta jalur masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia berdasarkan hasil buatan kelompok disertai dengan tanya jawab pada saat diskusi berlangsung.

Di bawah ini merupakan formnat penilaian dalam membuat peta penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia sesuai dengan tugas yang telah diberikan guru kepada siswa.

Format Penilaian Portofolio

Indikator

Nilai Kualitatif

Nilai kuntitatif

Deskripsi

Pengantar

Menunjukkan dengan tepat isis karangan/laporan penelitian,kesimpulan maupun rangkuman.Untuk peta,skema dan lukisan,mempersiapkan bahan-bahan.

Isi

Kesesuaian antara judul dengan isi dan materi.Menguraikan hasil karangan/laporan penelitian,kesimpulan,dan rangkuman dengan tepat.Menjabarkan peta dan skema sesuai dengan tema yang diajukan.Melukis sesuai dengan wujud benda yang telah ditentukan .

Penutup

Memberikan kesimpulan karangan/hasil penelitian

Struktur/logika penulisan

Penggambaran dengan jelas metode yang dipakai dalam karangan/penelitian

Orisinalitas karangan

Karangan/penelitian,kesimpulan,rangkuman,peta,skema,dan lukisan merupakan hasil sendiri

Penyajian,bahasan dan bahasa

Bahasa yang digunakan sesuai EYD dan komunikatif

Jumlah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar